Belajar dari Kembaran, Menyokong Kapasitas Mengelola Kawasan

IMG_7271Jam tangan saya menunjukkan hampir pukul 17.00 waktu Pesisir Timur Benua Amerika ketika pesawat jenis Embrayer yang kami tumpangi mendarat di Bandara Internasional Norfolk, Virginia. Penat puluhan jam penerbangan masih ditimpali suhu diluar yang hanya beranjak empat tingkat dari titik nol derajat celcius., tak menyurutkan langkah kami dalam perjalanan kali ini. Dengan sedikit terseok membawa bagasi masing-masing kami menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan darat menuju penginapan di Suffolk, sekitar 45 menit dari tempat kami mendarat.

Kami menjadi bagian dari 11 orang yang menjadi tim Delegasi Indonesia untuk U.S – Indonesia Sister Protected Area Study Tour, yang merupakan buah dari kerjasama Pemerintah AS – Indonesia untuk Program Penguatan Taman Nasional di Indonesia. Taman Nasional Tanjung Puting dan Taman Nasional Sebangau, masing-masing akan “berkembaran” dengan Big Cypress National Preserve dan Great Dismal Swamp National Wildlife Refuge. Setiap kawasan lindung tadi akan saling sokong untuk meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia dalam mengelola kawasannya. Big Cypress National Preserve dan Taman Nasional Tanjung Puting akan bertukar pengetahuan bidang Wisata Alam, Sedangkan Great Dismal Swamp National Wildlife Refuge dan Taman Nasional Sebangau akan berbagi tentang ilmu hidrologi pada masing-masing lokasinya.

_DSC0623Lokasi kunjungan adalah Great Dismal Swamp National Wildlife Refuge Norfolk, Aligator River National Wildlife Refuge North Carolina, Everglades National Park dan Big Cypress National Preserve di Florida. Adapun aktivitas kunjungan kami kali ini akan memfokuskan pada enam tema diantaranya adalah : 1. Hidrologidan restorasi habitat lahan basah, 2. Pemulihan/ peningkatan spesies terancam punah, 3. Menejemen kebakaran hutan, 4. Ekowisata (mulai dari desain perencanaan wisata sampai pengelolaan pengunjung).5. Pendidikan lingkungan dan pendekatan masyarakat, 6.Mempertajam, menggali dan merumuskan perjanjian kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Amerika Serikat.

Kegiatan kunjungan ke Great Dismal Swamp National Wildlife Refuge dilakukan dengan dua agenda utama yaitu kunjungan ke kantor meliputi kegiatan presentasi, dialog kerjasama pengelolaan serta kunjungan ke lapangan. Kunjungan ke lapangan difokuskan pada lokasi bekas kebakaran, dan upaya reforestasi, lokasi pembuatan dam, ekowisata dan lokasi stategis lainnya.

IMG_7318Kunjungan di kantor diterima langsung oleh Superintendent (Kepala Balai) Great Dismal Swamp National Wildlife Refuge Mr.Chris. Kegiatan selanjutnya dilakukan pertemuan. Pada pertemuan ini Cris menyampaikan selamat datang kepada semua delegasi dan dilanjutkan dengan perkenalan. Setelah perkenalan kemudian Mr. Chris menyampaikan tugas-tugasnya sebagai menejer Great Dismal Swamp. Menejer Great Dismal Swamp perlu berinteraksi dengan lima kota dan lebih fokus pada hubungan eksternal. Untuk tugas-tugas kantor seperti bagian hidrologi, kebakaran, wisata dan lainnya nanti akan disampaikan oleh ahli masing-masing.

Pengelolaan kawasan di Great Dismal Swamp Natinal Refuge terlihat sangat maju dengan sistem menejemen yang sangat baik. Pengelolaan hidrologi, pengendalian kebakaran, restorasi/ rehabilitasi, dan pendidikan lingkungan telah terintegrasi serta didukung oleh staff yang profesional dan ahli dibidangnya masing-masing. Jenis tumbuhan cedar merupakan salah satu jenis flora endemik untuk kegiatan reforestrasi bekas areal kebakaran.

Kunjungan ke kantor Great Dismal Swamp National RefugeRestorasi Hidrologi dan Pengelolaan Kawasan
Presentasi ini dibawakan oleh Fred C. Wurster yang merupakan ahli hidrologi Great Dismal Swamp National Refuge. Disampaikan bahwa presentasi yang dibawakan tidak berbeda dengan apa yang di prsentasikan pada saat training hidrologi di Balai TN Sebangau bulan Februari 2015.

Distibusi lahan gambut di Indonesia sangat perlu perhatian yang sangat tinggi. Di Amerika bagian yang perlu perhatian yaitu di wilayah utara dan timur. Pada Great Dismal Swamp National Refuge dilakukan pengelolaan hidrologi. Kegiatan pengelolaan hidrologi dibantu dengan menggunakan alat berat untuk menyiapkan struktur dan mendukung pengelolaan lahan dan areal. Menejemen/ pengelolaan hidrologi dilakukan dengan membangun dam pada beberapa lokasi baik pada kanal besar maupun kanal kecil, pemantauan kualitas air, pemantauan peat subsidence, dan restorasi pohon endemik jenis cedar.

Kunjungan Areal Bekas Kebakaran

Seperti halnya di TN Sebangau Kalimantan Tengah, di Great Dismal Swamp National Refuge kondisi air tanah turun pada daerah dekat kanal. Ukuran kanal yang bervariasi misalnya kanal utama (lebar 30-40 m dan kedalaman 2-4 m), kanal kecil (lebar 2-4 dan kedalaman 2-3 m). Selain itu, kebakaran hutan dapat menyebabkan penurunan permukaan tanah sekitar 1 (satu) meter tiap kebakaran terjadi.

Untuk pengaturan tinggi muka air, diperlukan struktur pendukung untuk mengurangi laju kehilangan air dan cara mengatasi bila terjadi kekurangan air di suatu level. Level dipetakan sesuai ketinggian dari muka tanah untuk mengetahui trend aliran air dan karakteristik dari aliran air. Struktur dam harus bisa mengatasi erosi yang terjadi dipinggir bendungan sehingga diperlukan space untuk mengalirkan air bila terjadi banjir. Kegiatan pemantauan dam perlu dibuat lokasi di beberapa tempat untuk kontrol sekaligus untuk mengukur beberapa parameter yang diperlukan sesuai dengan tujuan pengelolaan.

SAM_2797Menejemen Kebakaran Hutan
Menejemen kebakaran hutan disampaikan oleh Bryan. Presentasi dimulai dengan menjelaskan tentang sebaran kebakaran di areal Great Dismal Swamp, dilanjutkan dengan gambar beberapa lokasi yang terbakar, upaya pemadaman, kegiatan pemadaman, peralatan yang digunakan untuk pemadaman, dan kerjasama pemadaman dengan perusahaan. Dijelaskan bahwa kebakaran di beberapa areal dapat menjalar ke lokasi lain (private sector).

IMG_7947

Selanjutnya untuk kegiatan pemulihan atau restorasi dilakukan berbagai tahapan kegiatan mulai dari land clearing sampai pada penanaman. Jenis yang umum ditanam adalah pohon cedar. Kadang-kadang untuk melakukan penanaman dan pembenihan sangat mahal biayanya sehingga dipilih untuk mendatangkan bibit yang sudah siap tanam dari tempat lain. Ada beberapa hambatan, terutama kondisi tanah yang rusak akibat kebakaran yang terjadi sehingga diperlukan langkah-langkah khusus dan tertentu. Setelah presentasi di lakukan kunjunga ke kantor dan bengkel fire management.

Pada akhirnya kunjungan kerjasama kami berujung pada sokongan fokus tiga kegiatan utama yaitu peningkatan kapasitas menejemen hidrologi, data management dan ecotiurism menagement yang dirinci dalam sebelas aksi kegiatan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.